Teuku
Raja Angkasah, mendeklarasikan perang melawan Kompeni Belanda. Hingga akhirnya
syahid di Buket Gadeng,Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan,25 Oktober
1925.
Postur
tubuhnya memang kecil, tapi bukan berarti tidak punya nyali dan keberanian.
Sejak kecil, sahabat Teuku Cut Ali ini, sudah memiliki keberanian dan
kelebihan. Kelihaian dalam memainkan pedang, menjadikan putra dari Teuku
Abdurrahman itu disegani kawan-kawan seperjuangannya. Belanda menjulukinya
sebagai “Harimau Sumatera” karena keperkasaannya.
Teuku
Raja Angkasah mulai memimpin perang melawan marsose Belanda awal tahun 1925.
Dalam perang tersebut, banyak marsose Belanda tewas ditangan Raja Angkasah. Hampir
setiap hari, ada marsose Belanda yang terbunuh. Keadaaan ini, jelas membuat
militer Belanda gusar dan gamang, hingga berujung didirikannya markas marsose
Belanda di Bakongan.
Sebelumnya,
markas marsose khusus itu hanya ada lima di Aceh, yaitu di Indrapuri (Aceh
Besar), Jeuram (Aceh Barat), Tangse (Pidie), Peurelak (Aceh Timur), dan di
Takengon (Aceh Tengah). Perang di Bakongan, adalah perang yang paling sulit dan
menakutkan bagi marsose Belanda. Maklum, banyak marsose Belanda yang ditugaskan
di wilayah ini hanya tinggal nama.
Istilah
“Kapal Putih”, momok yang menakutkan bagi Marsose Belanda. Bayangkan, hampir
setiap minggu mayat-mayat marsose Belanda diangkut dengan kapal tersebut dari
Bakongan menuju Kuta Raja (Banda Aceh) untuk dikuburkan di Komplek Perkuburan
Kerkoff di Setui, Banda Aceh. Itulah salah satu bukti dari keganasan Raja
Angkasah dalam membasmi Belanda.
Menurut
Teuku Ramli Angkasah, putera kandung Raja Angkasah. Ada beberapa penyebab
Ayahandanya bertempur melawan Marsose Belanda. Pertama, sikap Belanda yang
mulai mencengkram wilayah Aceh, kedua pendirian Tangsi Militer di Bakongan.
Ketiga,
sikap Belanda yang mengadu domba keluarga Hulubalang Bakongan. Keempat
terbunuhnya Ayahanda Teuku Raja Angkasah, yaitu Teuku Abdurahman yang merupakan
hasil provokasi Belanda dan antek-anteknya di Bakongan. Dan yang terakhir,
Belanda ingin memperkuat basis di Bakongan dengan melemahkan peran Hulubalang.
Foto Teuku Raja Angkasa
Perang
Bakongan termasuk bagian Perang Aceh yang sangat menguras enerji maupun biaya
bagi pihak Belanda, termasuk menewaskan Prajurit Belanda yang sedemikian banyak
diantaranya terdapat beberapa Jenderal Belanda.
Teuku
Raja Angkasah memiliki cara yang unik saat bertempur dengan Belanda. Strategi
yang digunakan Teuku Raja Angkasah dalam Perang Bakongan adalah :
1.
Sebelum bertempur
Teuku Raja Angkasah senantiasa mengirimkan surat tantangan kepada Marsose
Belanda untuk melakukan pertempuran di suatu tempat. Strategi ini merupakan
bentuk perang urat syaraf (psywar) untuk menjatuhkan mental pihak lawan.
2.
Mengingat
keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang dan keterbatasan persediaan
senapang mesin yang dimilikinya, Teuku Raja Angkasah sering menawarkan untuk
bertanding pedang dengan Komandan Marsose Belanda, diantaranya Kapten Paris
yang dikenal sebagai Singa Afrika dan sebelumnya pernah menjadi Komandan
Pasukan Belanda di Afrika Selatan. Teuku Raja Angkasah unggul dalam
pertandingan pedang ini. Keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang
ini adalah kemampuannya untuk meloncat seolah-olah melayang sambil mengayunkan
pedangnya kepihak musuh.
3.
Melakukan jebakan
dengan menggunakan tali pada jalur-jalur yang dilalui oleh Pasukan Marsose
Belanda. Saat Marsose Belanda terperangkap pada tali-tali tersebut maka Teuku
Raja Angkasah bersama Pasukannya melakukan penyerbuan dan menghabisi para
Marsose tersebut.
4.
Teuku Raja
Angkasah bersama pasukannya menunggu di puncak bukit (Bukit Gading di Hulu
Bakongan). Dikaki Bukit terletak sungai yang dilalui Belanda. Saat Belanda
menyeberang sungai maka Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya akan menyerbu
dari atas sehingga membuat Pasukan Marsose Belanda kocar-kacir.
5.
Berkoordinasi
dengan pejuang lainnya diantaranya Teuku Cut Ali dan Teuku Datuk Raja Lelo
untuk mengatur posisi secara menyebar sehingga menyulitkan pihak Belanda.
Belanda,
kebingungan dan kewalahan atas perlawanan yang dilakukan Raja Angkasah beserta
panglima perangnya. Acap kali, setiap peperangan berlangsung banyak marsose
Belanda yang gugur. Berbagai cara pun dilakukan, agar Raja Angkasah dan
pengikutnya dapat dilumpuhkan.
Kompeni
Belanda, menyebut Teuku Angkasah sebagai Teuku Angkasa. Itu dikarenakan,
kemahirannya melompat dan melayang sambil mengayunkan pedang. Belanda hampir
kehilangan akal untuk melumpuhkan “Harimau Sumatra” tersebut. Hingga akhirnya,
Komando Pusat Belanda di Batavia (Jakarta), mengirim Kapten Paris ke Bakongan.
Kapten
Paris, yang di juluki “Singa Afrika” khusus dikirim untuk melumpuhkan kekuatan
Raja Angkasah dan pejuang lain. Sebelumnya, Kapten Paris pernah memimpin
pasukan Belanda di Afrika Selatan dan terkenal dengan ketangguhannya bermain
pedang.
Diutusnya
Kapten Paris ke Bakongan, tak membuat Raja Angkasah gentar dan takut. Untuk
membuktikan kehebatan Kapten Paris, Raja Angkasah menantangnya satu lawan satu.
Ajakan itu, tentu diterima Kapten Paris dengan senang hati. Sebaliknya, Kapten
Paris, juga ingin membuktikan kehebatan Teuku Raja Angkasah.
Tanding
pedang Teuku Raja Angkasah versus Kapten Paris pun berlangsung alot. Singa
Afrika tersebut kewalahan menghadapi kelincahan Raja Angkasah dalam memainkan
pedang. Hingga akhirnya, Kapten Paris terluka parah. Namun, Teuku Raja Angkasah
tidak langsung membunuhnya.
Kapten
Paris diberi kesempatan untuk memulihkan diri sampai sembuh. Dan setelah itu
ditantang lagi untuk bertanding pedang. Namun, adu pedang yang kedua ini tidak
dilakukan, karena Marsose Belanda mempunyai strategi lain.
Marsose
Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah
beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan
marsose Belanda dengan senjata lengkap. Diawali dengan adanya seorang
pengkhianat yang mengantarkan makanan.
Kemudian
pengkhianat ini dari belakang diikuti oleh Pasukan Marsose Belanda, saat Teuku
Raja Angkasah bersama Panglimanya menyantap makanan yang diduga telah diracun
untuk melemahkan badan, Pasukan Marsose Belanda melakukan penyergapan. Marsose
Belanda dengan jumlah lebih banyak - puluhan orang - dan bersenjata lengkap
menyerbu posisi kemah Teuku Raja Angkasah bersama 3 orang Panglimanya.
Marsose
Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah
beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan
marsose Belanda dengan senjata lengkap. Tembakan dilepaskan secara
bertubi-tubi, mengenai tubuh Raja Angkasa dan tiga panglimanya.
Dalam
kondisi terdesak ini Teuku Raja Angkasah sempat menggunakan karabinnya
(senapang tua). Karena terus ditembakan karabin itu menjadi sangat panas,
kemudian Teuku Raja Angkasah membuka sorbannya untuk membalut karabin yang
panas tersebut sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah kepada Marsose
Belanda.
Sebetulnya
beberapa peluru telah mengenai badan Teuku Raja Angkasah namun beliau masih
bertahan. Saat dalam keadaan terdesak tersebut beliau masih terus melakukan
perlawanan. Namun kemudian peluru habis dan beliau kemudian berteriak memaki
Pasukan Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu
Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose.
Pada
saat inilah seorang penembak jitu dari Pasukan Marsose Belanda berhasil
menembakan satu peluru menembus ke mulut beliau sehingga ajal pun menjemputnya.
Dia syahid bersama tiga panglimanya. Salah satu panglimanya hanyut terbawa arus
sungai saat marsose Belanda membombardir tempat persembunyian Teuku Raja
Angkasah dan panglimanya.
Setelah
syahid, pihak Belanda ingin memenggal kepala Teuku Raja Angkasah dan dibawa ke
Kuta Raja. Kepala Teuku Raja Angkasah, akan diperlihatkan kepada Pejabat Tinggi Kolonial Belanda, sebagai bukti Raja Angkasah telah
dilumpuhkan.
Namun,
Raja Bakongan, yang saat itu dijabat pamannya (dalam bahasa Aceh Ayahcut—red)
berhasil mencegah. Akhirnya Teuku Raja Angkasah dan panglimanya dimakamkan di
Buket Gadeng.
Perang
Bakongan yang dipimpin Teuku Raja Angkasah, membuktikan bahwa perang di Aceh
tidak pernah berakhir, meskipun Sultan Aceh telah tertangkap Belanda pada tahun
1904. Setelah tahun 1904 masih banyak terjadi perang melawan Belanda di Aceh.
Salah satunya adalah perang di Bakongan yang membuat Teuku Raja Angkasah syahid
bersama tiga panglimanya. Jadi, sesungguhnya, Belanda tidak pernah menguasai
Aceh, namun yang terjadi, perang terus menerus antara Aceh dengan Belanda.
Mengenai tahun dan wafatnya Teuku Angkasah, ada beberapa pendapat. Sebagian
mengatakan 25 Oktober 1925, lainnya 25 Oktober 1928. Begitulah catatan
sejarahnya.
|