Posted by : YAHYA
Tuesday, 28 October 2014
Sahabat Ummi, berikut ini artikel yang mungkin saja bisa menjadi bahan introspeksi untuk bangsa kita:
Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya
"Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap
kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller" (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal
ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses
dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta
lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai.
Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter,
lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk
memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai
daripada CARA
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang
menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi
kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh
pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun
ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yang wajar.
3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis
"kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT
dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal
rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan
dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali
sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades,
but master of none" (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak
menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara
dalam olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia
yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan
kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat-
nya sifat eksploratif sbg upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk
mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa
penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau
dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi
berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
Dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena
kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi
duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid
memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika.
Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan?
Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta)
nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu
yg lebih cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO
BERTANYA!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya.
Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan...sebagai orang tua kita
bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan
mensupportnya.
Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu
yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa
korupsi.
.jpg)