Posted by : YAHYA
Thursday, 30 October 2014
BISSMILAHIRRAHMANIRRAHIM
ASSALAMUALAIKUM, WARAHMATULLAHI, WABARAKATUH.
Assalamualaikum saya akan mengulas sebuah cerita tentang jeritan hati seorang IBU.
Anakku.....
Bagaimana kabarmu,,,, apakah kamu baik-baik saja? Dirumah ibu juga sehat. Sekarang ini Ibu sedangkan memandangi cermin dan fotomu. Tiba-tiba aku menjadi sadar, bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah semakin banyak dan aku tidak ceketan lagi seperti dulu, Aku sering iri padamu yang selalu ceria, sering aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah mengalami seperti itu dulu.
Anakku....
Sewaktu ibumu menikah dengan ayahmu, ibu tidak pernah membayangkan akan mempunyai anaksepertimu. Sengguh, ibu ini betapa tidak berartinya ibu. Engkau lahir dan tumbuh semata -mata karena mukjizat dan rahmad tuhan belaka.
Tak kuingkari memang akulah yang mangandungmu selama sembilan bulan. Saat itu aku selalu gelisah menanti kelahiranmu. Aku selalu menjaga diriku agar bayi di perutku yaitu karena tidak harus meninggal untuk melahirkanmu. Aku sampai menitikkan air mata bahagia saat mendengar tangis pertamamu yang sangat lucu.
Engkau ini darah dan dagingku sendiri; engkau tumbuh dari bagian tubuhku namun engkau lahir keluar sebagai manusia yang baru sama sekali. Dalam beberapa hal kamu memang mirip aku tetapi selebihnya engkau sungguh baru. Sejak kecil kurawat engkau dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang; engkau lebih kuperhatikan dari pada apapunyang pernah kumiliki. Kusuapi dan kususui engkau dengan air yang mengalir dari dadaku sendiri. Bila engkau menangis kugendong dan kuhibur,mainkan yang kau gemari; mobila - mobilan atau boneka -boneka yaang lucu. Engkau masih ihgat masa kecilmu, kan?
Setiap pagi dan sore kumandikan engkau. Bila kau ngompol atau e'ek di celana atau di popok dengan sabar kubersihkan dan kugarat dengan yang baru. paling sedihlah aku bila kamu sakit memang engkau waktu itu hanya makhluk kecil yang tidak berdaya yang bisa saja kubuang ke kotak sampah atau ke selokan kalau aku mau. Tetapi aku cinta padamu engkau ke dokter kuusahakan agar kau mendapat vaksinasi dan makanan bergizi.
Anakku....
Pada waktu masih kecil dulu kamu sering rewel ngambek bla tidak diberi uang jajan atau sulit bila disuruh mandi. Kau ingat betapa manjanya kamu.Setiap kali kau lari kr pangkuanku bila engkau bertengkar dengan kakakmu bila dimarahi ayah atau bila dinakali teman-temanmu. Aku menjadi saksi untuk masa kecilmu yang manja sehingga aku tak sempat lagi mengurus diri ataupergi sesuka hati.
Kini engkau sudah dewesa....
Aku bangga padamu engkau harapanku. Namun aku sering sedih melihat kelakuanmu; kala engkau bermalas - malasan untuk bangun kala bermain seharian tak tahu waktu Hampir -hampir Aku menangis bila kuingat betapa sulitnya menyuruhmu belajar mnegerjakan PR atau mengingatkanmu untuk tidak membolos. Seperti kau tidak tahu bahwa ini semua demi kamu sendiri. Sungguh aku tidak bermaksud mau menyengsarakanmu dengan aturan-aturanku.Aku ingin engkau bahagia bisa hidup pantas di tengah-tengah dunia yang penuh dengan persaingan ini. Kamu harus pandai supaya tidak mati tertelan jamanmu nanti.
Setiap malam aku berdoa untukmu tak sekejap pun engkau hilang dari hidupku. Bila aku sedang memasak di dapur yang kubayangkan adalah kepuasan makanmu dan juga kesehatan tubuhmu. Bila aku ikut membantu bekerja yang kuinginkan engkau tidak terhambat karena biaya. Bila ku benahia kamrmua yang modis aku ingin kau tidak malu pada teman-temanmu.ndan bila aku merawt kesehatanmu tubuhku sendiri, aku hanya ingin agar aku dapat lebih lama lagi mendampingi dan menyerahkan hidup kepadamu.
Anakku.......
Kalau engkau memang sulit menerima aku yang sering rewel kolot atau lamban ini aku mohon maaf paling tidak kamu mau menghormati ayahmu, Sepanjang hari setiaphari selama bertahu- tahundia bekerja keras untukmu hingga tubuhnya lemah kulitnya kerut merut tertimpa banyakpenderitaan. Cintanya padamu membuatnya tidak malu untuk bekerja di tempat -tempat yang kotor, membuatnya setia menajagai kita semua. Dia juga hanya ingin kita ini semua bahagia.
Anakku.....
Jangan sia-siakan cintanya. jarang sekali dia mengeluh kala menghadapi beratnya beban kehidupan tugas - tugas berat dan tuntutan anak -anakny. Di hadapan kita, dia selalu tersenyum dan tertawa gembira. Kadang - kadang aku merasa kasihan kepadany kalau dia tidak bisa pulang seharian kalau tubuhnya yang sudah kecapaian itu harus dipaksa untuk bekerja lagi. Saya sendiri sering merasa bersalah karena rasanya hanya memperlakukan ayah seperti kuda beban atau sapi perahan. Kita bis beli ini itu, bisa pergi ke sana kemari atau bermain-main dengan santai di rumah, sementara itu dia hanya puas dengan bersantai - santai seperti kita. Sungguh anakku, aku mohom hormatilah ayahmu.
Akhirnya ,,,,
Sebagai orang tuamu ibu minta maaf kalau selama ini aku kadang-kadang egois, menuntut terlalu berlebihan, kolot dan keras terhadapmu, Maafkan Ibu mu nakku sayang Ibu kurang mengerti kebutuhan -kebutuahn dan duniamu kadang aku masih menggagumu seperti anak-anak yang kuatur segalanya agar tidak keliru, Maafkan aku anakku, yang membuat banyak kesalahan atau malah menyengsarakanmu, yang tidak dapat mencintai dengan cara yang cocok dengan keinginanmu. Kata maaf darimu adalah hadiah yang paling kutunggu.
Anakku.....
Aku sedah kengend kamu ingin rasanya kubisikan aku sayang kamu. Hanya peluk ciumku untukmu.
I LOVE YOU ANAKKU SAYANG, IBU SELALU MENYAYANGIMU
Sumber saya kutip di kaskus.co.id
