Popular Post

Posts

Posted by : YAHYA Friday, 31 October 2014

Bismillahirrahmanirrahim
              Assalamualaikum wr, wb.

Asas - Asas Tawakal dalam Mencari Rezeki 

Dalam bertawakal, seorang hamba wajib membenarkan keterangan tentang kelangsungan pemberian rezeki, jaminan ketercukupan, dan ketersedian makanan dari Allah Swt. Selama kurun waktu yang telah ditetapkan. Pemebenaran ini diwujudkan dalam bentuk keyakinan dalam hati, dengan menipis keraguan dan kesangsian, memurnikan keyakinan, serta mengukuhkan dengan segenap pengetauhan bahwa Allah -lah yang menciptakan dan memberikan rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Dialah Tuhan yang seluruh perintah -Nya harus ditaati.

Ketika pengetauhan ini telah terpati dalam kalbu dan diikat kuat oleh iman, lidah pasti mengikrarkannya di hadapan Allah. Tetapi, ketika hati tidak mempercai sifat-sifat Allah, lidah tidak akan mengikrarkannya. Hati akan dihinggapi kebimbangan dan keraguan, sehingga nama-nama suci Allah terjabut darinya, dan hati pun akan terisi oleh sifat-sifat tercela.

Ikrarkan melalui lidah dan pengetauhan merupakan kunci untuk menepis karaguan dan mematri nama-nama terpuji Allah ke dalam hati kita. Sedikit saja ikrar dan pengetauhan ini hilang dari hati kita, maka tempatnya akan digantikan oleh sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan kita. Sesuatu yang bertentagan ini dapat membuat kita ragu akan sesuatunyang sudah kita yakini, bahkan memutarbalikan sesuatu yang berlawan ini berserang dalam hati kita, bukan hanya nama-nama terpuji Allah yang akan hilang, tetapi juga iman dan tawakal kita.

Ciri-ciri Tawakal orang adalah adanya rasa terburu-buru dalam kalbu, resah saat tidak mendapatkan nikmat, cemas ketika mengalami kesulitan, gembira tatkala harta berlimpah, berusaha mendapatkan harta yang tidak dinilik, dan ceria kala meraih kemenangan.

Asas -asa yang telah saya paparkan di atas harus anda tegakkan di atas ikrar dan fondasi iman yang kuat. Bukti - buktinya akan terlihat pada sikap anda dalam merendahkan diri lewat hati dan lidah saat memohon kepada Allah; pada kesadaran anda bahwa semua harta yang anda miliki sejati tidak anda peroleh melalui kecerdasan anda; pada keinsyafan anda bahwa semua usaha anda tidak lagi  merupakan sarana untuk memperoleh harta berlimpah, melainkan buah dari tabiat anda, yang didorong oleh fitrah. Allah menjelaskan fitrah manusia secara keseluruhan melalui firman-Nya :

Artinya  : 
Manusia dihiasi kecintaan pada apa-apa yang diingin, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang -binatang ternak dan sawah ladang. [ Q.S Al-Imran (3):14].

sekali-kali jangan begitu. sebenarnaya kamu ( hai manusia) mencinta kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. [Q.S al- Qiyamah (75): 20-21]

Dan manusia bersifat tergesa-gesa. [Q.S. al-Isra' (17):11].

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Swt. memberitahukan tabiat dan naluri yang bersemayam dalam diri manusia.
Sekalipun tabiat dan naluri itu ada pada diri seorang mukmin, dia tetap bisa disebut bertawakal jika dia meyakini hal-hal yang telah saya paparkan di atas. Dia tergolong bertawakal jika dia berserah diri dengan sepenuh hati di dalam ikatan iman dan tawakal, melalui ikrar lidah dan keyakinan hatinya. Allah Swt. Berfirman :
   Dan di langit (seba-seba) rezekimu dan terdapat (pula)  apa yang dijanjikan kepadamu. Demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, yang dijanjikan benar-benar (akan terjadi ) seperti perkataan yang kamu ucapkan. [ Q.S.al-Dzariyat (51): 22-23 ]

Allah bersumpah atas nama-Nya sendiri bahwa Dialah yang membagikan dan menjamin rezeki semua makluk. Selalu makluk, kita wajib mempercai sumpah ini. Jika kita mempercai sumpah Allah ini dengan segenap keyakinan kita, kita bisa disebut mukmin yang bertawakal. Sebaliknya, jika  kita meragukan dan mendustakan sumpah-Nya, kita tergolong kafir durjana, sebagaimana telah Allah jelaskan dalam kitab-Nya.

Sekalipun gejolak tabiat dan naluri terus ada dalam diri anda, misalnya rasa cinta kepada tumpukan harta, atau hasrat untuk menempuh segala cara dalam mendapatkannya, anda tetap bisa disebut bertawakal. asalkan, semua batasan yang telah saya uraikan masih tertanam kokoh dalam hati anda dan tercermin dalam kegiatan lahiriah anda. Gejolak rasa yang bergelora dalam jiwa bukanlah aral yang menghalangi manusia untuk taat. Makanya, Allah Swt. tidak menyuruh hambanya untuk menghilangkan gejolak ini. Yang Dia  perintahkan adalah menegakkan ketaatan dalam mencari rezeki yang halal. Jika perintah Allah ini Anda laksanakan dengan tuntutan Allah, maka gejolak jiwa dan dorongan nafsu tadi sama sekali tidak berbahaya bagi Anda. Anda tidak boleh melampoi batas-batas yang telah ditetapkan Allah, misalnya, berusaha mendapatkan sesuatu yang dilarang oleh -Nya, jika anda melanggar batasan itu, maka anda telah mendurakahi Allah secara sadar. Jika batasan itu anda lampui atau anda ingkari dengan lidah, anda sudah keluar dari sifat terpuji. Tatkala batasan-Nya anda lampui sementara keyakinan anda kepadaNya sesudah kokoh, maka nilai tawakal anda berkurnag, dan tingakt pelaksanaan kewajiban anda menjadi tidak sempurna. Hal ini dikarenakan Allah membolehkan manusia untuk mencari rezeki dan tidak menuntut kereka menghilangkan sifat naluriah ini. Allah Swt. Berfirman :
Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. [ Q.S al-Baqarah (2): 168]

Laki-laki yang tidak dilakukan oleh perniagaan dan tidak ( pula) oleh jual-beli dari mengingat llah. [ Q.S al-Nur (24) : 37]

Kedua ayat ini merupakan bukti bahwa Allah Swt. membolehkan manusia untuk berusaha namun melarang mereka melampui batas. Rasulullah saw. bersabda : " makanan terbaik yang dinikmati seorang mukmin adalah yang diperoleh dari hasil usahanya" (HR. Nasa'i). Hadis ini menjadi dalil bahwa usaha mencari rezeki  tidaklah meninggalkan kewajiban untuk bertawakal, sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat lain, sunnah, dan teladan dari para sahabat.

 Sekalangan orang beranggapan bahwa tawakal melarang kita untuk mencari rezeki sehingga yang perlu kita lakukan hanyalah diam berpangku  tangan. Mereka melarang seuatu yang dibolehkan Alqur'an dan Sunnah di atas dan hadis lain berbunyi: Semua nabi yang diutus Allah pasti mengembala kambing. " Dan juga engkau, ya Rasulullah?" tanya sahabat. " Aku mengembala kambing miliki ppenduduk Mekkah dengan upah beberapa kirath, " jawab beliau. Bahkan ketika masih belia, Rasulullah saw. sudah berdagang ke negeri Syam.

Allah berfirman tentang Nabi Musa as.:
Apa yang di tangan kananmu, wahai Musa? Musa menjawab, " Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul ( daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." [Q.S Thaha (20): 17-18 ]

    Allah Swt. berfirman tentang Nabi Syuaib  dan Nabi Musa:

Nabi Syuaib, " Aku bermaksud menikah-kankamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar kamu bekerja denganku  delapan tahun. Jika kamu cukupkan sepuluhtahun maka itu, adalah ( suatu kebaikan) darimu. Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatkantermasuk orang -orang yang baik." [Q.S. al-Qashash (28):27].

Allah Swt. juga berfirman tentang Nabi Dawud:

Dan kami telah melunakkan besi untuknya,(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakan amal saleh [Q.S. al-Saba' (34): 10-11]

Begitulah kegiatan para nabi - sosok manusia pilihan Allah - dalam mencari rezeki. Semua ini saya utarakan untuk melengkapi penjelasan tentang usaha Nabi Muhammad dan para sahabat terdekat beliau dalam mencari rezeki.
   Sekial dan terimakasih mudah -mudahan ber manfaaat, klu ber manfaat jangan lupa di share ya kawan - kawan ku semua.
    Wassalam
Saya kutip dari  (Sumber : A'malu al - Qulub wa al-jawariah )

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © KISAH SIPENULIS BLOG SEO - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -